Selasa, 22 Mei 2012

Pola Persukuan bahasa Bali


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Setiap bahasa mempunyai pola persukuan  (syllabic patern) yang belum tentu  sama dengan bahasa lainnya. Pola persukuan disini dimaksudkan sebagai suatu urutan berulang dari tempat vocal dan konsonan yang terdapat pada suku kata dalam bahasa. Berpangkal dari batasan itulah maka ada yang menyebut pola persukuan itu sebagai pola kanonik atau istilah yang juga sering dipakai ialah fonotaktik (phonotactics). Fonotaktik dapat diartikan sebagai urutan fonem yang dimungkinkan dalam suatu bahasa atau pemerian dan system pengaturannya dalam bidang fonemik.
 Fonologi adalah cabang linguistic yang salah satunya mempelajari seluk beluk suku kata. Suku kata bisa dihitung dengan melihat jumlah bunyi vocal yang ada dalam kata itu. Suku kata jika bergabung maka akan membentuk kata yang nantinya memiliki makna.

1.2 Rumusan masalah
- Bagaimana menentukan persukuan sabuah kata?
- Bagaimana pola persukuan dalam Bahasa Bali?




1.3 Tujuan
Makalah ini ditulis dengan harapan agar mampu memmberikan gambaran kepada para pembaca tentang suku kata dan olah suku kata dalam bahasa bali. Selain itu juga, sebagai bahan kepustakaan tentang bunyi bahasa.















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Suku Kata
 Setiap kata yang kita ucapkan pada umumnya dibangun oleh bunyi-bunyi bahasa baik berupa bunyi vokal, konsonan, maupun berupa bunyi semi konsonan. Kata yang dibangun tadi dapat terdiri dari satu segmen atau lebih. Didalam kajian fonologi, segmen tersebut disebut suku. Suku kata merupakan bagian atau unsure pembentuk kata. Setiap suku paling tidak harus terdiri dari satu bunyi vocal atau merupakan gabungan antara bunyi vocal dan konsonan. Bunyi vocal didalam suku kata merupakan puncak penyaringan atau sonority, sedangkan bunyi konsonan bertindak sebagai lembah suku. Didalam sebuah kata hanya ada sebuah puncak suku dan puncak ini ditandai dengan bunyi konsonan bisa lebih dari satu jumlahnya. Bunyi konsonan yang berada didepan bunyi vocal disebut tumpu suku. Sedangkan bunyi konsonan yang berda dibelakang bunyi vocal disebut koda suku. Jumlah suku didalam sebuah kata dapat dihitung dengan melihat jumlah bunyi vocal yang ada dalam kata itu. Dengan demikian, jika ada kata yang berisi tiga buah bunyi vocal maka dapat ditentukan bahwa kata itu terdiri dari tiga suku kata saja. Misalnya kata ‘belek’ adalah kata yang terdiri atas dua suku kata yaitu be dan lek. Masing-masing suku berisi sebuah bunyi vocal, yaitu bunyi E. Dalam penguraian kata diatas, suku-sukunya ada beberapa hal yang mesti diperhatikan antara lain:
1.      jika sebuah konsonan diapit dua vocal, maka konsonan tersebut ikut vokal dibelakangnya.
Contoh:
- Api  menjadi a-pi
- Apa menjadi a-pa
- Ida menjadi i-da
- Aji menjadi a-ji

2.      Awalan dan akhiran harus dituliskan tercerai dari kata dasarnya. Contoh:
- Kemargiang menjadi ke-mar-gi-ang
- Katresnain menjadi ka-tres-na-in
- Kacritayang menjadi ka-cri-ta-yang
- Kabukuang menjadi ka-bu-ku-ang
- Kagedeang menjadi ka-ge-de-ang
3.      Jika dua konsonan diapit dua vocal maka kedua vocal tersebut harus diceraikan.
Contoh:
-          karya menjadi kar-ya
-          Margi menjadi mar-gi
-          Cihna menjadi cih-na
-          Santi menjadi san-ti
-          Karma menjadi kar-ma
-          Jatma menjadi jat-ma
-          Dharma menjadi dhar-ma



2.1 Pola Suku Kata
            Jika jumlah suku dan penentuan suku pada sebuah kata dapat ditentukan, maka untuk mengetahui pola persukuannya amat mudah. Pola persukuan diambil dengan merumuskan tiap suku yang ada dalam kata. Bunyi vokal (disingkat: V) dan  bunyi konsonan (yang disingkat K) serta bunyi semi konsonan (disingkat A1/2 K) akan menjadi rumusan pola setiap suku. Bunyi konsonan didalam pola persukuan diberikan rumusan A1/2 K, agar tidak menimbulkan kekaburan didalam persukuan. Didalam bahasa Bali, ditemukan kata-kata yang setiap sukunya bisa hanya berupa sebuah bunyi vocal, bunyi vocal dengan bunyi semi konsonan, satu vocal dengan sebuah bunyi semi konsonan, satu vocal dengan sebuah bunyi konsonan dan sebuah vokal dengan dua  buah bunyi konsonan berdasarkan ketentuan inilah, maka dalam bahasa bali itemukan beberapa jenis pola persukuan.
Setiap kata itu disusun dengan suku kata. Sukukata itupun tersusun oleh fonem-fonem. Sebagai contoh kata /jani/‘sekarang’ disusun oleh dua suku kata ja dan ni. Bila suku kata ja di perhatikan ternyata suku kata itu terbentuk dari fonem konsonan /j/, dan fonem vokal /a/,dengan kata lain suku itu tersusun dengan pola konsonan (K)+vokal (V). Keseluruhan kata-kata bahasa Bali memiliki pola persukuan yang dapat dirumuskan dengan enam pola sebagai berikut:
 Jenis-jenis pola persukuan itu dapat dilihat dibawah ini:
a.       Suku kata berpola V, suku kata ini dibangun oleh sebuah bunyi vocal saja sebagai puncak. artinyasuku kata yang hanya tediri atas vokal saja,
contoh :
Ø  i-nguh‘gelisah’
Ø  ma-i‘kemari’
Ø  e- da ‘jangan
Ø  dansebagainya.

b.      Suku kata berpola VK, suku ini dibangun oleh sebuah bunyi vocal sebagai puncak dan sebuah bunyi konsonan sebagai kode. Artinya pola suku kata yang terdiri atas struktur vokal dan konsonan,
contoh:
Ø  in- tip ‘intip’
Ø  am-pik‘serambi’
Ø  um- bah ‘cuci
Ø  dansebagainya.
c.       Suku kata berpola KV, suku ini dibangun oleh sebuah bunyi konsonan, sebagai tumpuan suku dan sebuha bunyi vocal sebagai puncak. Artinya pola suku kata yang terdiri atas susunan konsonan dan vokal,
contoh:
Ø  ba-wak‘pendek’
Ø  ka- uh ‘barat’
Ø  du -ren‘durian’
Ø  pe- ken ‘pasar’
Ø  dansebagainya.
d.      Suku kata yang berpola KVK, suku ini dibangun oleh sebuah bunyi konsonan sebagai tumpu suku, sebuah bunyi vocal, sebagai puncak sebuah bunyi konsonan sebagai kode suku. Artinya pola suku kata yang terdiri atas konsonan, vocal dan konsonan,

contoh:
Ø  bek‘penuh’
Ø  ma - de-rek ‘berderet’
Ø  kam-ben‘kain’
Ø  war-na “warna”
Ø  dansebagainya

e.       Suku kata yang berpola KKV, suku ini dibangun oleh dua buah bunyi konsonan sebagai tumpu suku, dan sebuah bunyi vocal sebagai puncak suku. Artinya pola persukuan yang tersusun atas konsonan, konsonan dan vokal, ini berarti ada gugus pada  kata yang bersangkutan,contoh:
Ø  ka - cri-ta ‘diceritakan’
Ø  jle- ma ‘manusia’
Ø  pra - gat ‘selesai’
Ø  dansebagainya
f.       Suku kata yang berpola KKVK. Suku ini dibangun oleh sebuah bunyi konsonan yang bertindak sebagai tumpu suku, sebuah bunyi vocal sebagai puncaknya dan sebuah bunyi konsonan sebagai kode suku. Artinya pola persukuan yang terdiri atas konsonan, konsonan, vokal dan konsonan. Dalam pola persukuan seperti ini pun terdapat gugus konsonan pada kata yang dimaksud,
contoh:
Ø  ma -blan-ja‘berbelanja’
Ø  pa-sran-ting ‘menggelebir’
Ø  pa-glan - tes‘berserakan’
Ø  dan sebagainya.

Pola persukuan bahasa Bali dapat dirangkum sebagai berikut.
a.       Semua fonem vocal bahasa Bali yang berjumlah enam buah / a, i, u, e, o, e/ bisa berdiri sendiri serbagai suku kata.
b.      Suku kata tertutup yang dimulai dengan fonem vokal pada umumnya tertutup oleh konsonan sengau yang kemudian diikuti oleh konsonan yang sehomorgan, seperti yang terlihat dalam pola persukuan (VK).
c.       Pola suku kata yang terdiri atas konsonan dan vokal adalah pola yang paling umum diantara pola suku kata yang lain.
d.      Pola suku kata (I) didepan sangat sedikit ditemukan, sedangkan pola suku kata butir (a) sampai butir (e) merupakan pola yang umum dan banyak ditemukan dalam bahasa Bali.









BAB III
KESIMPULAN
            Dari paparan diatas, dapat kami simpulkan bahwa:
1.      Suku kata merupakan unsur pembentuk suku kata. Bunyi vokal dalam sebuah suku merupakan puncak kenyaringan atau sonority, sedangkan bunyi konsonan bertindak sebagai lembah suku.
2.      Dalam bahasa bali, terdapat beberapa jenis pola persukuan atau pola suku kata antara lain suku berpola V, VK, KV, KVK, KKV, KKVK, A1/2KV, dan KKVKK.













DAFTAR PUSTAKA
Enzet, Amien. 1989. Stuktur Pengajaran Tata Bahasa Indonesia Untuk SMTA. Surabaya. Indah.
Yusuf, Suhendra. 1998. Fonetik dan Fonologi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Gede Oka, Gusti Agung. 1983. Tata Bahasa Bali. Pada Sastra. Denpasar.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar